DASAR – DASAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Pengaruh teknoligi pendidikan pada organisasi kurikulum

Oleh:
NOFRI WANDI
NIM: 15004029
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
A. Latar Belakang
Adapun cara yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah dengan menyusun struktur
program organisasi kurikulum yaitu struktur vertikal dan struktur horizontal.
Struktur horizontal berkaitan dengan bagaimana bahan/mata pelajaran
diorganisasikan/disusun dalam pola-pola tertentu. Strategi pelaksanaan
pengajaran lainnya adalah sistem modul. Modul disusun dalam bentuk
satuan-satuan pelajaran. Modul ini disusun untuk murid. Dengan modul
diharapkan murid dapat belajar sendiri berdasarkan petunjuk-petunjuk yang
dicantumkan.
Metode pembelajaran adalah
suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam proses belajar, pembelajaran
memiliki dua unsur penting yakni siswa dan guru. Guru memiliki peranan penting
dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas untuk mencapai tujuan belajar
yang diinginkan. Terdapat dua fungsi utama dalam teknologi
instruksional di dalam prosesnya menuju pencapaian tujuan-tujuannya, yaitu
fungsi manajemen instruksional dan fungsi pengembangan instruksional. Fungsi
pengembangan instruksional merupakan hal yang berhubungan dengan proses dalam
menganalisis masalah, termasuk merancang, melaksanakan, dan menilai usaha
pemecahan masalah.
Aplikasi pembelajaran
membawa dampak pada siapa yang memutuaskan isi yang diajarkan; pemilihan isi
serta tingkat standardisasinya; kuantitas dan kualitas sumber yang disediakan;
siapa yang merancang sumber belajar dan bagaimana caranya, serta siapa dan
bagaimana memproduksinya sumber belajar itu; siapa dan bagaimana mengevaluasi
pembelajaran; siapa dan bagaimana berinteraksi dengan si-belajar; siapa dan
bagaimana menilai perbuatan si-belajar.
B. Organisasi Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum
Tentu telah kita pahami bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang
sangat diperlukan dalam dunia persekolahan. Tanpa adanya sebuah kurikulum,
dipastikan proses pendidikan tidak akan terarah dan dapat mencapai tujuan yang
diharapkan. Guru akan kesulitan menjabarkan urutan dan cakupan materi
pembelajaran yang ditempuhnya, proses pembelajaran yang diselenggarakan,
alat/media yang digunakan, penilaian yang perlu dilakukan, dsb.
Salah satu hal yang penting kurikulum adalah organisasi kurikulum itu sendiri.
Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum
yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan
kepada murid (Nurgiyantoro, 1988:111). Menurut Nasution (1982:135), organisasi
kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun dan disampaikan
kepada murid-murid. Struktur program dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berkaitan dengan
bagaimana bahan/ mata pelajaran diorganisasikan/ disusun dalam pola-pola
tertentu. Adapun struktur vertikal berkaitan dengan sistem pelaksanaan
kurikulum di sekolah. Melalui organisasi kurikulum ini, guru dan
pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program
pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta
peran guru dan murid dalam rangkaian pembelajaran
2. Faktor – Faktor Dalam Organisasi Kurikulum
a. Scope
Scope atau ruang lingkup kurikulum
berkenaan dengan bahan pelajaran yang harus di liputi. Scope menentukan apa
yang akan di pelajari, Biasanya yang menentukan scope termasuk sequence
(urutan) adalah para ahli pengembang kurikulum di bantu oleh ahli di siplin
ilmu, juga pengarang buku, penyusun program latiahan atau kursus.
b. Sequence atau Urutan
Sequence menentukan urutan bahan
pelajaran di sajikan, apa yang dahulu apa yang kemudian, dengan maksud agar
poses belajar berjalan dengan baik. Faktor – faktor yang turut menentukan
urutan bahan pelajaran antara lain : kematangan anak, latar belakang pengalaman
atau pengatahuan, tingkat inteligenci, minat, kegunaan bahan, dan kesulitan
bahan pelajaran.
c. Continuitas
Dengan continuitas di maksud bahwa
bahan pelajaran senantiasa meningkat dalam keluasan dan kedalamannya. Dengan
bahan yang di pelajari siswa di hadapkan dengan bahan yang lebih kompleks, buah
fikiran yang lebih sulit, nilai – nilai yang lebih tinggi, sikap yang lebih
halus, ketelitian yang lebih cermat, operasi mental yang lebih matang
d. Integrasi
Dengan kurikulum berdasarkan mata
pelajaran yang terpisah – pisah besar kemungkinan pengetahuan yang di miliki
para siswa lepas – lepas. Adnya fokus bahan pelajara terpadu berupa konsep,
prinsip, masalah membuka kemungkinan menggunakan berbagai di siplin secara
fungsional.
e. Keseimbangan
Keseimbangan dapat di pandang dari
dua segi, yaitu (1). Keseimbangan isi, yaitu tentang apa yang di pelajari dan
(2) keseimbangan cara atau proses belajar. Tidak semua siswa dapat belajar
secara efektif dengan cara yang sama. Maka perlu berbagai macam metode dan
kegiatan belajar.
c. Distribusi Waktu
Kurikulum
harus di tuangkan dalam bentuk kegiatan belajar beserta waktu yang di sediakan
untuk masing – masing pelajaran. Di sini di hadapi masalah distribusi atau
pembagian waktu, yang harus menjawab pertanyaan seperti berapa tahun suatu mata
pelajaran harus di berikan, berapa kali seminggu dan berapa lama tiap
pelajaran.
Adapun
cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah dengan
menyusun struktur program organisasi kurikulum yaitu struktur vertikal dan
struktur horizontal. Struktur horizontal berkaitan dengan bagaimana bahan/mata
pelajaran diorganisasikan/disusun dalam pola-pola tertentu.
Adapun
struktur vertikal berkaitan dengan sistem pelaksanaan kurikulum di sekolah.
Untuk lebih jelasnya akan di bahas di bawah ini.
a. Struktur Horizontal
Struktur
horizontal dalam organisasi kurikulum adalah suatu bentuk penyusunan bahan
pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Hal ini berkaitan erat dengan
tujuan pendidikan, isi pelajaran, dan strategi pembelajarannya. Dalam kaitannya
dengan struktur horizontal ini terdapat tiga macam bentuk penyusunan
kurikulum. Ketiganya ialah :
(1) separate-subject-curriculum,
(2) correlated-curriculum, dan
(3) integrated-curriculum.
Adapun yang harus diingat, bahwa pembedaan menjadi tiga macam
bentuk tersebut lebih bersifat teoretis, karena pada kenyataannya tidak ada
kurikulum yang secara mutlak dikembangkan dengan hanya salah satu bentuk saja
dengan tanpa mengaitkannya dengan yang lain
3. Jenis-jenis organisasi kurikulum
a. Mata pelajaran terpisah (separated curriculum)
Kurikulum
ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran yang
terpisah-pisah satu sama lain, terlepas dan tidak mempunyai kaitan sama
sekali sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya.
Beberapa hal positif dari separated curriculum ini adalah : Bahan pelajaran disajikan
secara sistematis dan logis dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai
budaya terdahulu
2. Mata
pelajaran gabungan (corelated curriculum)
Yaitu
kurikulum yang menekankan perlunya hubungan diantara satu pelajaran dengan mata
pelajaran lainnya, tetapi tetap memperhatikan cirri atau karakteristik tiap
bidang studi tersebut. Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi dapat diajarkan untuk
saling memperkuat. Ada tiga jenis korelasi yang sifatnya bergantung dari jenis
mata pelajaran. Korelasi faktual, misalnya sejarah dan kesusastraan.
Fakta-fakta sejarah disajikan melalui penulisan karangan sehingga menambah
kemungkinan menikmati bacaannya oleh siswa. Korelasi deskriptif, korelasi ini
dapat dilihat pada penggunaan generalisasi yang berlaku untuk dua atau lebih
mata pelajaran. Misal psikologi dapat berkorelasi dengan sejarah atau Ilmu
Pengetahuan Sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam psikologi
untuk menerangkan kejadian-kejadian sosial. Korelasi normatif, hampir sama
denagan korelasi deskriptif, perbedaannya terletak pada prinsipnya yang
bersifat moral social
3. Kurikulum
terpadu (integrated curriculum)
Yaitu
kurikulum yang menyajikan bahan pembelajaran secara unit dan keseluruhan tanpa
mengadakan batas-batas antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya.
Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini antara lain : Berdasarkan filsafat
pendidikan demokrasi, berdasarkan psikologi belajar gestalt dan organismik,
berdasarkan landasan sosiologis dan sosiokultural, berdasarkan kebutuhan, minat
dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
a) Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata
pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan mata
pelajaran baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan masalah
Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik pengalaman (experience) atau pelajaran (subject matter unit). Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Guru selaku pembimbing.
Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik pengalaman (experience) atau pelajaran (subject matter unit). Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Guru selaku pembimbing.
b) Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang
bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.
c) Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang
belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.
d) Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah
dengan masyarakat.
e) Aktifitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berpikir
sendiri dan berkerja sendiri, atau kerjasama dengan kelompok.
f) Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan
kematangan murid.
Di samping itu kurikulum ini juga mempunyai beberapa kelemahan
yang diantaranya ialah:
a) Guru belum siap untuk melaksanakan kurikulum ini.
b) Organisasin kurang sitematis
c) Tugas-tuganya memberatkan guru.
d) Tidak memungkinkan ujian umum, sebab tidak ada unformitas di
sekolah-sekolah satu sama lain.
e) Siswa dianggap tidak mampu ikut serta dalam menentukan
kurikulum.
f) Sarana dan prasarana yang kurang memadai.
Adapun dalam bentuk kurikulum terpadu ini terbagi lagi, meliputi
:
a) Kurikulum inti (core
curriculum)
Kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan integrasi, melayani
kebutuhan siswa dan meningkatkan keaktifan belajar dan hubungan antara
kehidupan dan belajar.
Ciri yang membedakan kurikulum inti, yaitu: Kurikulum inti
menekankan kepada nilai-nilai sosial, unsur universalitas dalam suatu
kebudayaan memberikan stabilitas dan kesatuan pada masyarakat. Struktur
kurikulum inti ditentukan oleh problem sosial.
Manfaat kurikulum inti adalah: Segala sesuatu yang dipelajari
dalam unit bertalian erat Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern
tentang belajar. Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah
dengan masyarakat. Kurikulum ini sesuai dengan paham demokrasi. Kurikulum ini
mudah disesuaikan dengan minat.
b) Kurikulum yang berlandaskan pada proses sosial dan
fungsi kehidupan (social functions and persistens situations).
Dalam pengembangan kurikulum ini di dasarkan pada lingkungan social
anak didik, sehingga pelajaran yang di peroleh memiliki fungsi dan makna
bagi kehidupan sehari-hari dan tidak terpisah dengan kondisi masyarakat.
c) Kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau pengalaman (experience
and activity curriculum)
Kurikulum ini dikenal juga dengan sebutan activity
curriculum. Mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa
dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegritas dengan lingkungan maupun
potensi siswa. Kurikulum ini berupaya mengatasi kelemahan pada subject
curriculum, yakni anak lebih banyak menerima (passive).
Rasional penggunaan bentuk kurikulum ini adalah: Belajar dapat terjadi dengan
proses mengalami. Anak dapat belajar dengan baik bila ia dihadapkan dengan
masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan reel atau minatnya. Belajar
merupakan transaksi aktif. Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang
bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan
pribadinya.
Strategi pelaksanaan kurikulum adalah cara-cara yang harus
ditempuh untuk melaksanakan suatu kurikulum sekolah, yang meliputi: pelaksanaan
pengajaran/ pembelajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan, dan pengaturan
kegiatan sekolah secara keseluruhan. Strategi pelaksanaan kurikulum merupakan
bagian yang termasuk dalam bidang garap pengembang kurikulum. Dengan strategi
pelaksanaan kurikulum ini, maka para pelaksana (kepala sekolah dan guru)
mempunyai pedoman kerja yang pasti, sesuai dengan ketentuan kurikulum yang
dijalankan, sehingga kemungkinan pencapaian tujuan pendidikan menjadi semakin
besar.
a. Pelaksanaan Pengajaran
Kalau di ingat kurikulum adalah suatu program pendidikan yang
direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Dalam
interaksi pendidikan, pelaksanaan pengajaran merupakan hal yang sangat penting.
Dari pelaksanaan pengajaran inilah hasil suatu proses pembelajaran (belajar dan
mengajar) dinilai berhasil atau tidak. Di antara hal yang termasuk dalam
pelaksanaan pembelajaran adalah pemilih-an metode dan alat/ media pendidikan
yang digunakan.
Sebagai
contoh, dalam pelajaran Bahasa Indonesia terdapat materi berpidato. Karena
berpidato merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, maka
metode yang tepat adalah demonstrasi (praktik pidato). Bukan sekedar
mempelajari teori pidato. Pengetahuan tentang konsep, prosedur, dan strategi
pidato memang diperlukan, tetapi tidak cukup berhenti di situ. Melainkan harus
berlanjut sampai pada praktik berpidato. Selanjutnya agar pembelajaran lebih
menggairahkan, maka diperlukan media audio-visual. Dengan cara ini, siswa dapat
menginspirasi model bagaimana orang dapat berpidato dengan baik. Namun,
pemilihan media audio-visual (rekaman) ini cocok bagi sekolah yang
memiliki fasilitas itu. Bagi sekolah yang tidak mempunyai fasilitas
audio-visual, maka guru harus mencari media lain atau strategi lain yang
sesuai. Misalnya, dengan menugasi anak untuk mencermati kegiatan pidato pada
siaran televisi atau radio di rumah.
b. Pendekatan
Keterampilan Proses
Keterampilan
proses sudah kita kenal semenjak Kurikulum 1984. Hingga saat ini pendekatan
tersebut masih sesuai untuk diterapkan dalam pengembangan dan pelaksanaan
kurikulum. Pendekatan keterampilan proses menekankan terlaksananya komunikasi
dua arah. Komunikasi dua arah mengindikasikan adanya peran serta aktif pada
diri guru dan murid. Dalam proses pembelajaran murid terlibat secara fisik dan
mental, sehingga apa yang diperoleh siswa dapat lebih mendalam. Melalui
keterampilan proses, siswa didorong untuk mendapatkan informasi (ilmu),
mengelola, mempergunakan, dan mengomunikasikannya.
c. Kegiatan Kokurikuler dan
Ekstrakurikuler
Dalam
pelaksanaan pendidikan di sekolah dikenal adanya tiga kegiatan pokok, yaitu
kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ketiganya merupakan
satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan
secara keseluruhan pada suatu sekolah. Kegiatan intrakurikuler merupakan
kegiatan utama persekolahan yang dilakukan dengan menggunakan jatah waktu yang
telah ditentukan dalam struktur program. Kagiatan ini dilakukan guru dan siswa
dalam jam-jam pelajaran tiap hari. Kegiatan intrakurikuler ini dilakukan untuk
mencapai tujuan minimal setiap mata pelajaran, baik yang tergolong program inti
ataupun program khusus.